Rabu, 27 November 2019

Guru Milenial Menjawab

Siswi-siswi SMK Indonesia Mas

infonews871-kamis.28 November 2019


infonews871.blogspot.com - Kita banyak menaruh harapan kepada guru untuk membantu mendidik anak agar siap menghadapi masa depan. 
Indonesia pun membutuhkan generasi masa depan yang cemerlang untuk menghadapi persaingan global. Pada Hari Guru Nasional, sejumlah guru dari generasi milenial juga menaruh harapan kepada pemerintah, orangtua, serta seluruh insan pendidikan.
in871 mewawancarai sejumlah guru-guru millenial yang kini terjun mendidik di pendidikan formal. 
Berikut rangkuman harapan-harapan muncul dari guru-guru generasi milenial. 
Nyai Daryanti.SPd Dan Maysaroh.SPd
Guru SMK Indonesia Mas


1. Pendidikan menonjolkan karakter 
Guru SMK Indonesia Mas,Nyai Daryanti.SPd berharap siswa sadar bahwa ilmu pengetahuan yang dipelajari selama di sekolah bukan untuk membantu masuk ke perguruan tinggi. Menurut Nyai Daryanti, ilmu pengetahuan yang dipelajari sekarang adalah modal untuk menjalani hidup.
"Agar kamu tahu siapa diri kamu, kamu punya identitas yang khas, agar siswa unik, beragam, berwawasan, dan berkarakter," ujar Nyai Daryanti saat diwawancarai in871.Nyai Daryanti menyebutkan setiap anak itu punya karakter. Menurutnya, pendidikan seharusnya bisa menonjolkan karakter setiap anak. "Ada sisi unik keluar, maka ada nilai-nilai toleransi di sana. Ada juga sisi kreatif. Di situlah pendidikan seharusnya menciptakan hal itu," tambah Nyai Daryanti.

2. Bebas berkreasi dan berinovasi
Wakasek Kurikulum SMK Indonesia Mas Sohib.SPd,berharap sekolah-sekolah bisa lebih membebaskan guru dan murid lebih berekspresi.Pola pendidikan di sekolah juga diharapkan seimbang antara teori dan praktek. "Kebetulan di sekolah saya ada pelajaran Kewirausahaan Itu jadi tak hanya teori tetapi banyak praktek," ujar Sohib kepada in871,
Sohib.SPd
Wakasek Kurikulum SMK Indonesia Mas
Sohib berharap kepada pemerintah untuk menyederhakan Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP). Menurutnya, penyusunan RPP itu membuang waktu guru dalam kegiatan belajar mengajar. "Inginnya to the point aja. cuma poin-poin aja. Gak perlu detail kalau soal RPP kalau soal materi, ternyata masih banyak sekolah yang harus banget ngikutin kompetensi dasar yang dikasih jadi mereka gak bisa improve. Ujung-ujungnya ke anak-anak kasihan juga," tambah Sohib.


3. Orangtua turut berperan mendidik bersama 
Astuti.SPd
Guru Kewirausahaan
Orangtua diharapkan turut berperan dalam mendidik anak. Cara-cara yang bisa dilakukan milsanya berkomunikasi dengan guru, mengajarkan nilai-nilai baik di masyarakat, apresiasi anak, mendengarkan cerita anak, dan konsisten mengikuti nilai-nilai pelajaran di sekolah.Astuti.SPd mengatakan "orangtua harus aktif berkomunikasi dengan guru"
Orangtua bisa menanyakan perkembangan anak selama di sekolah ketika di rumah. "Misalnya anaknya udh diarahin ikut ekskul, kalau bisa ditanya perkembangannya di rumah, anaknya di rumah mesti latihan apa," ujar Astuti.Astuti mengatakan guru tidak bisa bergerak sendiri untuk mendidik siswa karena pasti hasilnya tidak signifikan. Ia menekankan harus ada peran dari orangtua dan sekolah. "Orang tua perlu ada dan mendampingi anak-anak mereka tanpa harus menekan dan membebaninya," ujar Astuti saat dihubungi in871.
(Kang Bahar)

Minggu, 24 November 2019

Kirab Pusaka,Bentuk Keharmonisan Publik Figur Dan Masyarakat


wakil bupati menerima cinderamata dari ketua PBK.
infonews-Karawang.Kirab Pusaka, Bentuk Keharmonisan Publik Figur dan Masyarakat,Ibarat semut yang mengerubuti gula, ribuan orang berkumpul memadati pinggiran jalan lapangan desa lemahduwur telagasari karawang dari Alun-alun Desa Sementara, yang ditunggu-tunggu belum juga sedikit pun menampakan tanda-tanda akan segera mulai, namun masyarakat sudah mulai sesak memadati pinggiran jalan seolah tak menghiraukan panasnya matahari yang membakar kulit. Adalah prosesi "Kirab Pusaka" yang mereka tunggu, hingga rela berpanas-panasan.
Meski belakangan banyak opini yang beredar di telinga masyarakat, bahwa di era milenial ini, perhelatan tradisi budaya sedikit demi sedikit sudah mulai ditinggalkan, namun faktanya justru selaras dengan visi kabupaten Karawang "Menuju Karawang yang lebih maju berbudaya dan religius", tradisi budaya Tahunan seperti kirab pusaka seperti ini, sampai detik ini masih menjadi sebuah perhelatan yang sayang untuk dilewatkan bagi masyarakat karawang.Terbukti dengan antusiasme masyarakat Karawang yang menyaksikan kirab budaya yang digelar Pagi hari kemarin seolah membantah dan justru berbanding terbalik dengan apa yang selama ini sudah menjadi opini publik namun terasa terkesan kurang objektif.Sedangkan bagi sebagian besar masyarakat Karawang sendiri yang notabene adalah masyarakat Jawa.
agama dan budaya adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa untuk ditinggaklan. Agama adalah alat bagaimana manusia hidup sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan budaya adalah alat bagaimana manusia hidup sebagai makhluk sosial.Maka tak heran, jika "Kirab Pusaka" adalah salah satu rangkain acara perayaan  yang begitu ditunggu - tunggu oleh masyarkat Karawang dan sekitarnya hingga rela berdesak - desakan dan berpanas-panasan demi untuk bisa menyaksikan acara tradisi budaya yang hanya digelar satu kali dalam setahun seperti ini.Setelah 2 jam menunggu, akhirnya terdengar juga sirine polisi dari arah gapura,berada di garis depan pengawalan untuk membuka jalan.Rombongan kedua diisi oleh para bregodo pembawa pusaka yang menjadi saksi sejarah berdirinya kabupaten Karawang. Pusaka tersebut akan dikirabkan menuju alun-alun pusat pemerintahan desa lemahduwur saat ini melalui jalur sejauh 3 kilometer yang terlihat berlangsung begitu sakral. juga ikut memeriahkan jalannya Kirab Pusaka dengan banyaknya para tamu paguyuban,Dalam sisi lain, terselenggaranya kirab pusaka seperti ini, selain merupakan sebuah bentuk pelestarian budaya, agar generasi sekarang mengetahui bagaimana cikal bakal Kota karawang, dan bagaimana Islam berkembang di karawang,demikian diungkapkan wakil bupati karawang yang akrab disapa kang jimi ini
,Namun moment ini merupakan sebuah kesempatan.Kesempatan bagi para pejabat, pemimpin, tokoh masyarakat untuk bisa menyapa dan bertatap muka secara langsung. Hal itu terbukti, dengan banyaknya masyarakat yang begitu riuh dan berebut untuk berjabat tangan ketika seorang yang dirasa adalah publik figur terlihat di depan mata dengan menaiki delman saat kirab pusaka.Ini adalah pemandangan langka. Jangankan untuk bisa berjabat tangan untuk bisa bertemu secara langsung saat hari-hari biasa pun rasanya mustahil. Tapi hal itu tidak berlaku ketika moment kirab pusaka seperti ini. Baik pejabat,
pemimpin serta tokoh masyarakat bisa dengan mudah menyapa masyarakat secara langsung Begitu juga masyarakat, mereka bisa dengan sangat mudah, meluapkan kerinduaanya bisa bertemu dan bahkan bisa berjabat tangan dengan mereka yang dirasa adalah seorang publik figur atau pemimpin mereka.

Walaupun hanya sekedar membagikan makanan kecil namun itu adalah bentuk kecil kepedulian kecil seorang publik figur terhadap masyarakat. Kirab pusaka bukan hanya sekadar pelestarian budaya, kirab pusaka adalah bentuk sebuah keharmonisan antara Publik figur dan Masyarakat.(Kang Bahar)

Selamat Hari Guru 25 November

Guru SMK indonesia mas,.jadi petugas upacara

infonews871-senin,25 November 2019

infonews-Cilamaya.Senin pagi adalah hari yang istimewa buat para guru seluruh indonesia,hari guru yang diperingati setiapat tanggal 25 November kali ini terkesan begitu khidmat,pelaksanaan upacara senin di SMK indonesia mas yang biasanya beranggotakan siswa-siswi kini diganti oleh para guru dan staf menejemen dengan pembina upacara dipimpin langsung oleh kepala sekolah SMK indonesia mas Mulyadi Rusmianto.SE.M.Si.
Dalam amanatnya selain membacakan pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Sekolah SMK indonesia Mas Mulyadi Mengatakan" Bahwa guru Tidak ada yang sempurna,Tapi Dituntut untuk mendidik siswa-siswinya menjadi sempurna,dalam kutipan pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengamanatkan"Tugas Guru di era milenial ini ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa,tapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan'anda ingin membantu murid yang ketertinggalan dikelas,tapi waktu anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas" dan besok dimanapun anda berada lakukanlah perubahan kecil,apapun perubahan kecil itu,jika setiap guru melakukannya secara serentak,kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak" Demikian isi pidato Menteri Pendidikan dan kebudayaan Nadiem Anwar Makarim.
Selain Melaksanakan upacara,para Gurupun mengikuti berbagai game untuk membuat acara lebih meriah lagi Kepala Sekolah sengaja menyediakan doorprize untuk para guru.(KangBahar)Selamat Hari Guru #MerdekaBelajar#Gurupenggerak


Jumat, 22 November 2019

Selamat Hari Guru


Hari Guru Nasional Diperingati 25 November, Bertepatan dengan hari PGRI


Tanggal tersebut ditetapkan melalui keputusan presiden no.78 tahun 1994. Penetapan tanggal ini diputuskan tanpa menjadikan Hari Guru Nasional sebagai hari libur.
Namun, biasanya sekolah-sekolah mengadakan upacara untuk memperingatinya. Umumnya, dalam upacara tersebut murid-murid akan memberikan penghargaan lewat lagu paduan suara. Tak jarang, beberapa sekolah mengadakan lomba di hari tersebut.
Tanggal 25 November juga bertepatan dengan Hari PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Jika Hari Guru Nasional ditetapkan pada 1994, Hari PGRI ditetapkan lebih dahulu, yaitu tahun 1945.
Sebelumnya, Persatuan Guru Republik Indonesia memiliki nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang didirikan pada tahun 1912 oleh pemerintahan kolonial Belanda, lalu menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) pada 1932.
Saat Jepang mulai menduduki Indonesia, semua organisasi dilarang, sekolah-sekolah ditutup, sehingga PGI tidak lagi beraktivitas.
PGHB kala itu adalah sebuah organisasi besar, yang memuat sub-organisasi, seperti Persatuan Guru Bantu (PGB), Perserikatan Guru Desa (PGD), Persatuan Guru Ambachtsschool (PGAS), Perserikatan Normaalschool (PNS), Hogere Kweekschool Bond (HKSB), berdasarkanvketerangan dari pengurus besar PGRI.
Selain itu, ada sub-organisasi guru yang bercorak keagamaan, kebangsaan, dan lainnya, seperti Christelijke Onderwijs Vereneging (COV), Katolieke Onderwijsbond (KOD), Vereneging Van Muloleerkrachten (VVM), dan Nederlands Indische Onderwijs Genootschap (NIOG).
Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 menggelorakan penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia yang diadakan pada 24-25 November 1945. Dalam kongres ini, semua organisasi dan kelompok guru yang didasarkan pada perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku sepakat untuk dihapuskan.
Sebagai gantinya, mereka semua menyatukan perbedaan, sesuai dengan semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sembari memperingati 100 hari Indonesia merdeka, dibentuklah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada tanggal tersebut.
Anggota Kongres bersepakat untuk mengisi kemerdekaan Indonesia dengan tiga tujuan sebagai berikut.

  1. Mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia.
  2. Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dasar-dasar kerakyatan.
  3. Membela hak dan nasib buruh pada umumnya, guru pada khususnya.
Sejak kongres itulah, semua guru menyatakan diri bersatu di bawah wadah PGRI yang menyatakan kesetiannya dalam pengabdian sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan yang bersifat unitaristik, independen, dan non-partai politik.
Oleh karena itu, sebagai penghormatan guru-guru Republik Indonesia, tanggal 25 November pun ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional dan diperingati setiap tahun.(Kang Bahar)

SELAMAT HARI GURU

Kamis, 21 November 2019

Tradisi Sedekah Bumi Wujud syukur yang tak tergerus oleh zaman



infonews871.blogspot.com
infonews871 - Banyusari.Tradisi sedekah bumi ini, merupakan salah satu bentuk ritual tradisional masyarakat di pulau jawa yang sudah berlangsung secara turun-temurun dari nenek moyang orang jawa terdahulu. Ritual sedekah bumi ini biasanya dilakukan oleh mereka pada masyarakat jawa yang berprofesi sebagai petani, nelayan yang menggantunggkan hidup keluarga dan sanak famil mereka dari mengais rizqi dari memanfaatkan kekayaan alam yang ada di bumi.
Bagi masyarakat jawa khususnya para kaum petani dan para nelayan, tradisi ritual tahunan semacam sedekah bumi bukan hanya merupakan sebagai rutinitas atau ritual yang sifatnya tahunan belaka. Akan tetapi tradisi sedakah bumi mempunyai makna yang lebih dari itu, upacara tradisional sedekah bumi itu sudah menjadi salah satu bagian dari masyarakat yang tidak akan mampu untuk dipisahkan dari budaya jawa .
Pada acara upacara tradisi sedekah bumi tersebut umumnya, tidak banyak peristiwa dan kegiatan yang dilakukan di dalamnya. Hanya saja, pada waktu acara tersebut biasanya seluruh masyarakat sekitar yang merayakannya tradisi sedekah bumi membuat tumpeng dan berkumpul menjadi satu di tempat sesepuh kampung, di balai desa atau tempat tempat yang telah disepakati oleh seluruh masyarakat setempat untuk menggelar acara ritual sedekah bumi tersebut. Setelah itu, kemudian masyarakat membawa tumpeng tersebut ke balai desa atau tempat setempat untuk di doakan oleh sesepuh adat. setelah di doakan oleh sesepuh adat, kemudian kembali diserahkan kepada masyarakat setempat yang membuatnya sendiri. Nasi tumpeng yang sudah di doakan oleh sesepuh adat setempat kemudian di makan secara ramai ramai oleh masyarakat yang merayakan acara sedekah bumi itu. Namun, ada juga sebagian masyarakat yang membawa nasi tumpeng tersebut yang membawanya pulang untuk dimakan beserta sanak keluarganya di rumah masing-masing.

Pembuatan nasi tumpeng ini merupakan salah satu syarat yang harus dilaksanakan pada saat upacara tradisi tradisional itu. Demikian Makanandiungkapkan bp.Onip baharudin warga dari dusun peundeuy desa cicinde Utara.. yang menjadi makanan pokok yang harus ada dalam tradisi ritual sedekah bumi adalah nasi tumpeng dan ayam panggang. Sedangkan yang lainnya seperti minuman, buah-buahan dan lauk-pauk hanya bersifat tambahan saja, tidak menjadi perioritas yang utama. pada acara akhir para petani biasanya menyisakan sebagian makanan itu dan diletakkan di sudut-sudut petak sawahnya masing-masing. sebagai Bentuk Rasa Syukur. Dalam puncaknya acara ritual sedekah bumi di akhiri dengan melantunkan doa bersama-sama oleh masyarakat setempat dengan dipimpin oleh sesepuh adat. Doa dalam sedekah bumi tersebut umumnya dipimpin oleh sesepuh kampung yang sudah sering dan terbiasa mamimpin jalannya ritual tersebut. Ada yang sangat menarik dalam lantunan doa yang ada dilanjutkan dalam ritual tersebut. Yang menarik dalam lantunan doa tersebut adalah kolaborasi antara lantunan kalimat kalimat Jawa dan dipadukan dengan doa yang bernuansa Islami.(Kang Bahar)

Senin, 18 November 2019

Gratis SPP Sekolah SMA SMK negeri se-Jawa Barat,hanya akan mempertajam kesenjangan

infonews871 -  Gratis SPP Sekolah SMA SMK negeri se-Jawa Barat yang akan diberlakukan mulai Juli 2020, hanya akan mempertajam kesenjangan perhatian pemerintah kepada sekolah swasta terhadap sekolah negeri. Upaya merelokasikan anggaran Karawang Cerdas untuk SMA/SMK Negeri yang nilainya mendekati Rp21 Milyar untuk biaya pembebasan SPP SMA/SMK swasta yang belum ter-cover APBD Propinsi, hanya ditanggapi dingin dan hambar. 

"Dalih Pemkab, adalah pada dukungan regulasi dan kajian yang memadai agar kelak tidak menimbulkan masalah, "Sebut Anggota Komis IV DPRD Karawang, dr Atta Subagjadinata, Senin (18/11).

Dirinya sepakat, bahwa kebijakan tersebut memerlukan kekuatan regulasi, agar akhir kemudian tidak menjadi temuan BPK atau sandungan hukum lainnya. Namun dirinya balik tidak setuju kalau kemudian kenyataannya Disdikpora dan pihak terkait lainnya, hanya diam berpangku tangan dan bersikap pesimis yang seolah-olah berpikir itu semua tidak akan pernah bisa diwujudkan. "ini tentu hanya akan menambah kandasnya harapan para pengelola sekolah SMA SMK swasta yang sudah beberapa kali mendatangi kami di komisi IV untuk menyampaikan aspirasinya terkait persoalan ini, " Katanya. 

Kalau saja pemerintah daerah mau serius meningkatkan angka pendidikan sampai tingkat SMA sebut Atta, seharusnya pemerintah daerah segera bersikap sigap dengan bergegas melakukan kajian dan mempersiapakan regulasi yang diperlukan sebelum waktu pembahasan APBD 2020 selesai dan disahkan, dengan segera berkonsultasi ke biro hukum Propinsi Jawa Barat atau pihak lainnya, lagi pula masih ada sisa waktu sekitar 2 minggu kedepan, atau bahkan kurang lebih sebulan setelah wacana ini disampaikan. "Sebagai komparasi, coba tengok Kabupaten Banjar dan Pangandaran yang sudah mengalokasikan dana hibah ke Pemerintah Propinsi untuk biaya SPP SMA/SMK di daerahnya dari APBD mereka, yang selama ini bisa berjalan dengan lancar dan mulus rahayu berekah salamet,"Sindirnya.

Lebih jauh Atta menambahkan, Pemkab Karawang harusnya bersyukur manakala pendidikan SMA menjadi kewenangan propinsi, dan biaya pendidikan SMA/SMK Negeri menjadi tanggungan propinsi, karena sebelumnya ketika semua menjadi tanggungjawab pemerintah kabupaten Karawang, pemkab sanggup membiayai semuanya. Nah ketika sebagian / yang negeri dibiayai pemerintah propinsi, masa tinggal nambah biaya SPP untuk SMA SMK swasta menjadi tidak mampu. "
Disinilah konsistensi dipertanyakan, " Tandasnya. (Kang Bahar)

Minggu, 17 November 2019

Cegah Dini Tawuran Siswa

Saling Ejek, Pelajar SMK di Karawang Terlibat Tawuran Satu Orang Tewas
ilustrasi

infonews871.blogspot.com.-senin.18 November 2019

infonews871- Cilamaya ,Para pelajar dari dua SMK di Kabupaten Karawang terlibat tawuran di Jalan Tengah Sawah, Kampung A Kecamatan A Kabupaten A pada hari Rabu sore hari tadi. Seorang siswa bernama A harus meregang nyawa akibat luka di sekujur tubuhnya."

Seperti itulah contoh berita tawuran siswa yang akhir-akhir ini kerap terdenger oleh kita saat ini..kerasan yang terjadi di lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat adalah orang dewasa yang melakukannya. namun, pada saat ini banyaknya perkelahian yang terjadi pada pelajar telah terungkap di berbagai media.
Uman
Kanit Bimas Polsek Cilamaya

faktor-faktor yang menyebabkan perkelahian/tawuran antar pelajar

1.   Faktor internal. 
Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang / pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan.
2.   Faktor keluarga
Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirnya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya.
3.   Faktor sekolah
Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya.
4.   Faktor lingkungan
Rapat Para Kepala Sekolah Wilayah Cilamaya
 Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi.Demikian dipaparakan Kanit Bimas Polsek Cilamaya Wetan saat Rapat antar Kepala Sekolah dalam mencari solusi mengatasi terkait maraknya tawuran antar siswa yang kini mulai meresahkan diwilayah clamaya wetan kab.Karawang
Rapat yang direncanakan akan dihadiri seluruh kepala sekolah ternyata tidak memenuhi kuota kesepakatan,karena sebagian besar para kepala sekolah tidak hadir ini,Rapat yang juga dihadiri ketua MKKS kabupaten karawang Dedi Supriadi.S.Pd,MM serta Kepolisian dari Polsek Cilamaya,Rasa kecawapun di unkapakan oleh dedi dalam rapat tersebut" ternyata para kepala sekolah khususnya daerah cilamaya ini kurang solid,padahal mslah tawuran ini sudah sangat memprihatinkan,kita berkumpul ini kan untuk cari jalan keluar bagaimana mncari solusi jika para pemegang kebijakannya sendirisulit untuk diajak duduk bersama,"buat sekolah lain,yang merasa sekolah nya tidak merasa  pernah ikut teribat tawuran pun rabu depan akan saya undang jangan diem-diem bae,karena ini masalah seluruh pemangku pendidikan"  dengan nada sedikit kesal.(Kang Bahar)


MKKS & FKKSMKS Kabupaten Karawang Siapkan Pengajuan Pembelajaran Tatap Muka Awal Tahun 2021

Musyawarah forum kerja kepala sekolah swasta Kab.Karawang bahas teknis persiapan sekolah tatap muka dimasa new normal jelang awal tahun 2021...